EDY MARHADI

Powered By Blogger

Tampilkan postingan dengan label Beras Miskin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beras Miskin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

Raskin

Minggu, 20 Februari 2011


Jurnal Bogor

Jaga Kualitas Raskin

Pertanyaan untuk Edy Marhadi, Satker Kota Bogor dan Depok Bulog Sub Divisi Regional Cianjur
Mengemban tugas untuk mendistribusikan beras untuk rakyat miskin (raskin) bukanlah hal yang mudah. Jika tidak ekstra teliti, maka kesalahan penghitungan yang berdampak pada kerugian uang negara tentu tidak mustahil terjadi. Begitupula dengan dampaknya kepada masyarakat penerima raskin sendiri. Lantas, bagaimana dengan Edy Marhadi yang merupakan Satker (Satuan Kerja) Kota Bogor dan Depok Bulog Sub Divisi Regional Cianjur dalam mengemban amanah sebagai petugas Bulog, yang khusus menangani raskin untuk wilayah Kota Bogor dan Depok? Simak penuturannya kepada wartawan Jurnal Bogor, Nadia Yuliana saat ditemui di Gudang Bulog Dramaga belum lama ini.

1. Apa kabar? Bisa diceritakan kesibukan Anda saat ini?
Alhamdulillah kabar baik. Kesibukan saya saat ini adalah membantu mendistribusikan beras raskin untuk Kota Bogor dan Depok. Proses distribusinya, dari Gudang Bulog Dramaga ke titik distribusi, yakni kelurahan penerima bantuan raskin.
2. Sejak kapan Anda mengemban amanah tersebut?
Tepatnya sejak 1 Oktober 2009. Saya resmi bekerja di Perum Bulog ini sejak bulan November 2008. Awalnya, saya ditempatkan di Kasi Pelayanan Publik pada Bulog Sub Drive Cianjur sebagai Staf Pelaksana. Lalu menjadi Staf Pelayanan Publik Bulog Sub Drive Cianjur.
3. Kabarnya, saat ini Anda menjabat dua tugas, benarkah?
Ya, saya menjabat dua tugas, yaitu sebagai Staf Kasi Gasar (Harga Pasar) dan sebagai Satker Kota Bogor dan Depok Bulog Sub Divisi Regional Cianjur. Secara jabatan struktural, saya merupakan Staf Kasi Gasar yang pekerjaannya memantau, melaporkan dan menganalisis harga sembilan bahan pokok di pasaran. Sedangkan menjadi satker, merupakan jabatan kepercayaan yang diberikan pimpinan kepada saya. Jabatan satker ini tidak ada dalam struktur jabatan kerja. Bukan hanya di sini, di wilayah lainpun sama. Satker merupakan tugas kepercayaan yang diberikan pimpinan untuk spesifik mengurusi soal raskin, tidak masuk struktur yang sebenarnya.
4. Bagaimana dengan Kota Bogor, apa Anda menemukan kendala dalam mendistribusikan raskin?
Kendala itu pasti ada, tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa memaknai kendala itu sebagai tantangan yang harus dihadapi untuk kebaikan bersama. Pada fase awal saya menjabat sebagai satker raskin di Kota Bogor, tidak ada integritas administrasi. Dalam arti, sistem yang berjalan tidak terpadu. Misalnya pada sistem pembayaran raskin dari penerima raskin ke Bulog. Namun perlahan saya coba untuk memperbaiki sistem itu. Alhamdulillah sekarang sudah mulai bagus sistemnya.
5. Bagaimana sistem pembayaran raskin yang Anda terapkan? Apa Anda menerima uang tunai secara langsung dari penerima raskin setiap bulannya?
Nah, itu dia.. Untuk menghindari adanya penyimpangan atau kekhilafan, sejak awal saya memberlakukan aturan untuk tidak menerima uang pembayaran raskin secara tunai. Itu juga saya tekankan kepada asisten saya. Walaupun sebenarnya diperbolehkan menerima uang raskin secara langsung. Hal itu saya lakukan agar sistem bisa berjalan dengan baik. Jadi mekanismenya untuk di Kota Bogor, keluarga penerima raskin membayar jatah raskinnya ke pengurus raskin di tiap RT/RW. Lalu oleh RT/RW disetorkan ke pengurus raskin di kelurahan. Setelah itu, pengurus raskin di kelurahan menyetorkan langsung ke Bank, dalam hal ini Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan bukti setor dicatat di kecamatannya masing-masing dan tembusannya ke Kantor Ketahanan Pangan (KKP). Bukti setor tersebut dari pihak kecamatan diambil oleh petugas KKP, lalu langsung diserahkan ke Satker raskin Bulog. Namun, apabila ada kemacetan pembayaran, maka kami melakukan upaya jemput bola ke kelurahan yang bersangkutan bersama tim monev (monitoring evaluasi).
6. Bagaimana Anda menanggapi munculnya keluhan masyarakat soal kualitas dan kuantitas beras raskin?
Tentunya saya menanggapi dengan positif. Saya selalu berusaha untuk bekerja sebaik-baiknya agar tidak ada lagi keluhan masyarakat soal kualitas dan kuantitas raskin. Sebelum disalurkan ke masyarakat, raskin terlebih dahulu melalui uji petik untuk mengontrol kualitasnya serta melakukan uji sampling berat raskin untuk memastikan kuantitas raskin itu sesuai dengan yang seharusnya.
7. Kalau boleh tahu, awalnya bagaimana Anda mengawali karir di Bulog?
Saya mengawali karir di Bulog ini mulai dari bawah. Latar belakang saya dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Waktu di Cirebon, saya merupakan Ketua Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) yang konsen pada bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Dari situlah saya menjadi salah satu pengawal raskin dari kalangan LSM selama lima tahun. Baru pada November 2008 saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Bulog.
8. Siapa orang yang banyak membantu dan menginspirasikan Anda dalam karir di Bulog ini?
Yang paling banyak membantu dan memberikan arahan adalah Pak Saparudin yang merupakan Pimpinan Kasi Gasar serta Pak Ngadino yang merupakan Kasub Bulog Divisi Regional Cianjur. Beliau berdua adalah guru saya. Saya sangat berterimakasih pada mereka.
9. Terakhir, apa harapan Anda untuk distribusi raskin di Kota Bogor?
Saya berharap Kota Bogor bisa menjadi yang terbaik dalam urusan pendistribusian raskin, serta semoga bisa menjadi percontohan untuk wilayah lain.

Senin, 09 Januari 2012


Bulog Bengkulu targetkan beli beras lokal 7.500 ton

Sabtu, 7 Januari 2012 12:00 WIB | 970 Views



Ilustrasi - Beras Bulog (FOTO ANTARA/Zabur Karuru )
Pada tahun 2012 kami mentargetkan bisa membeli sebanyak 7.500 ton, untuk menambah cadangan beras nasional.
Berita Terkait


Bulog: pemprov Sulbar siap bangun gudang beras 4.000 ton

Jamin pangan, cetak sawah baru 200 ribu Ha setahun

Stok pangan jelang Natal aman

Pemerintah akan bentuk BUMN raksasa tangani pangan

Gubernur Sulteng tolak beras impor
Video

Cadangan Beras ASEAN
DPR Tolak Pembebasan Bea Masuk Beras
Bulog Wajib Beli Beras Petani Bengkulu (ANTARA News) - Perum Bulog Divisi Regional Bengkulu mentargetkan membeli beras pengadaan lokal 2012 sebanyak 7.500 ton beras, terutama dari petani di beberapa sentra produksi daerah ini.

"Pada tahun 2012 kami mentargetkan bisa membeli sebanyak 7.500 ton, untuk menambah cadangan beras nasional," kata Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Divisi Regional Bengkulu Arsyad Irawan, Sabtu.

Ia mengatakan, jumlah pembelian beras petani tersebut jauh melebihi target pembelian pada 2011 tercatat sebanyak 2.000 ton, namun tidak semuanya terealisasi karena petani Bengkulu gagal panen akibat kemarau.

"Target pembelian beras tahun 2011 sebanyak 2.000 ton itu, hanya terealisasi sekitar 400 ton karena stok pada petani sangat minim," katanya.

Penyebab lain, tidak tercapainya target pembelian beras Perum Bulog itu harga beli jauh lebih rendah dari harga pasar yaitu mencapai di atas Rp7.000 per kilogram.

"Akibat harga Bulog terlalu rendah tersebut, maka petani enggan menjual hasil panennya ke kami, mereka cenderung menjual langsung ke pasar," katanya.

Namun demikian, katanya, Perum Bulog Divisi Regional Bengkulu pada 2012 optimistis bisa mencapai target pembelian beras para petani di daerah ini karena musim panen petani diperkirakan serentah dan tidak terjadi kemarau panjang sepeerti sebelumnya.

Mudah-mudahan stok gabah dan beras petani bisa meningkat, disamping pemerintah diharapkan bisa menaikan harga beli beras dan gabah sesuai standar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) 2012.

Kasi harga pasar (gasar) Bulog Divre Bengkulu David Susanto mengatakan, darerah sentra produksi bisa diandalkan untuk memenuhi pengadaan beras lokal itu antara lain di Kabupaten Lebong, hamparan Kemumu, Bengkulu Utara dan di kabupaten Selatan dan Kaur.

Di Kabupaten Lebong, katanya, bila dihitung secara lokal daerah itu setiap panen sudah terjadi surplus beras, namun beras petani setempat setiap panen banyak diserbu pedagangan dari luar Bengkulu karena kualitasnya lebih bagus.

Berdasarkan hasil survei Bulog selama ini, areal sawah petani yang ada hamparan luas antara lain di Kemumu, Bengkulu Utara, Lebong, Seginim, Bengkulu Selatan dan di Padang Guci, Kabupaten kaur.

Daerah kabupaten lainnya luasan sawahnya menyebar dan sebagian besar berubah menjadi kebun kelapa sawit seperti di Mukomuko dan di Kabupaten Seluma, katanya.



Editor: Ella Syafputri


COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Jumat, 21 Oktober 2011

Bulog Minta Dana Raskin Ditambah Rp 1,65 Triliun Beralasan Harga Beras Akan Naik Tahun Depan

Bulog Minta Dana Raskin Ditambah Rp 1,65 Triliun
Beralasan Harga Beras Akan Naik Tahun Depan



Jum'at, 21 Oktober 2011 , 00:00:00 WIB



ILUSTRASI, BULOG

RMOL.Perum Bulog meminta dana sub­sidi beras untuk rakyat miskin (ras­kin) di 2012 ditambah Rp 1,65 triliun dari Rp 17,26 triliun sehingga menjadi Rp 18,91 triliun.

Direktur Utama Bulog Sutarto Ali­moeso mengatakan, permin­ta­an kenaikan subsidi beras miskin ini karena harga pokok beras (HPB) diperkirakan mengalami ke­naikan tahun depan seiring me­ningkatnya harga beras dunia hing­ga 800 dolar AS per ton. Se­bab itu, Bulog akan mening­kat­kan harga pokok beras dari Rp 6.450/kg tahun ini menjadi Rp 7.085/kg tahun depan.

“Kita harus memperhatikan per­kembangan beras dunia, ga­bah berkualitas itu 15.000 bath atau sekitar 500 dolar AS per ton. Bah­kan ada yang menyatakan be­rasnya mendekati 800 dolar AS per ton dalam 2012,” ungkap Sutarto saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR, kemarin.

Menurutnya, harga beras Bu­log yang mencapai Rp 7.085/kg itu terdiri dari komponen harga jual sebesar Rp 1.600/kg dengan sub­sidi Rp 5.485/kg. Dana yang di­butuhkan Bulog untuk pe­nga­daan beras di 2012 mencapai Rp 19,39 triliun.

Di tempat lain, Pemerintah Indonesia bersama Badan Pangan Dunia (The United Nations World Food Program/WFP) meluncur­kan Peta Ketahanan dan Keren­ta­nan Pangan 14 Provinsi yang pa­ling rentan pangan di Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan) Sus­wono mengatakan, peta itu me­rupakan tindak lanjut dari ver­si nasional yang telah dipub­lika­sikan tahun lalu. Ini akan menjadi referensi dan pedoman dalam upaya penurunan kerawanan pangan di dalam negeri.

“Sebagai tindak lanjut dari komitmen Indonesia dalam pencapaian Millennium Develop­ment Goals (MDGs),” ujar Sus­wono, kemarin.

Adapun 14 provinsi tersebut ada­lah Nusa Tenggara Timur, Nu­sa Tenggara Barat, Gorontalo, Sula­wesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kaliman­tan Selatan. Selanjutnya Lam­pung, Jambi, Bengkulu, Suma­te­ra Selatan, Maluku serta Nangroe Aceh Darussalam.

Data itu nantinya bisa digu­na­kan oleh berbagai lembaga, se­perti Badan Ketahanan Pangan Pro­vinsi, Badan Pusat Statistik, Ke­menterian Kesehatan, Badan Na­sional Penanggulangan Ben­cana, dan Badan Metereologi, Kli­­matologi, dan Geofisika. [rm]


Baca juga:


SBY Minta Wacik Renegosiasi Kontrak Karya yang Tak Adil
Wapres Ingatkan Pentingnya Logistik untuk Perdagangan
PGN Saja Sulit Dapat Gas, Apalagi Industri
Negara Lalai Lindungi Produk dalam Negeri
Teken Kemitraan Dengan Manulife Indonesia, Bank Danamon Optimis Pendapatan Membengkak





Kamis, 20 Oktober 2011

10.000 Ton Raskin di Wilayah Sub Divre Cianjur Belum Diambil


10.000 Ton Raskin di Wilayah Sub Divre Cianjur Belum Diambil

Rabu, 20/07/2011 - 16:41

CIANJUR, (PRLM).-Realisasi penyaluran raskin selama tujuh bulan di tahun 2011 di enam kota/kabupaten wilayah Sub Divisi Regional (sub Divre) Cianjur baru mencapai 85,99 persen. Hingga 18 Juli 2011 masih ada sekitar 10.000 ton raskin yang belum di ambil. Mengenai hal tersebut dibenarkan Kepala Sub Divre Bulog Wilayah II Cianjur, Nurdin Ali, Rabu (20/7).

Nurdin mengatakan realisasi penyaluran raskin periode Januari hingga Juli 2011 di enam kota/kabupaten termasuk Cianjur 68.611.485 kg dari pagu yang ditentukan 79.793.175 kg. Jumlah RTS yang mendapat raskin sebanyak 759.935 kk. Khusus di Kabupaten Cianjur jumlah RTS penerima raskin sebanyak 200.255 kk, setiap bulan pagu penyaluran sebanyak 3.003.825 kg. Realisasi penyaluran raskin periode Januari hingga Juli tercatat 19.343.265 kg dari pagu 21.026.775 kg.

"Sampai 18 Juli 2011 masih ada sekitar 10.000 ton raskin yang belum diambil. Penyebabnya karena masih banyak tunggakan ditingkat desa, sehingga kami belum bisa menyalurkan raskin tersebut," ujarnya.

Dia mengatakan pada Maret lalu sebenarnya ada percepatan penyaluran, raksin untuk bulan April bisa diambil Maret. Namun dari enam kota/kabupaten hanya kota Sukabumi mengambilnya. Sedangkan lima daerah lainnya Kab. Cianjur, Sukabumi, Bogor, kota bogor dan depok tidak mengambil alokasi percepatan raskin.

Nurdin berharap tunggakan ditingkat desa tersebar di enam daerah bisa secepatnya diselesaikan, sehingga sisa alokasi raskin yang belum diambil bisa didistribusikan. Apabila mengacu pada pengalaman sebelumnya tunggakan itu terjadi ditingkat desa. Sebab RTS penerima raskin selalu membayar kontan ketika menerima raskin.

"Untuk penyelesaian tunggakan itu merupakan kewenangan pemerintah setempat. Mudah mudahan tunggakan bisa segera diselesaikan, sehingga RTS penerima raskin bisa kembali mendapat penyaluran. Sebab sesuai aturan kami tidak bisa menyalurkan raskin bila tunggakannya belum dilunasi," ujarnya.(A-116/kur)***

Rabu, 12 Oktober 2011

Target Surplus Beras 30%


Jabar Keteteran Capai Target Surplus Beras 30%


Oleh

Rabu, 12 Oktober 2011 | 07:15 WIB



Berita Terkait
Penyerapan Pembelian Beras Di Jabar Rendah
Bulog Jabar Gelar Operasi Pasar
Petani Jabar Malas Jual Beras Ke Bulog
RI-Turki Tingkatkan Kerja Sama Industri Dan Teknologi
Usulan Lembaga Pengawas Peralihan Lahan Disetujui



BANDUNG: Rangkuman berita ekonomi-bisnis media massa cetak harian yang beredar di Bandung hari ini, antara lain Pemprov Jabar akui menghadapi banyak kendala dalam merealisasikan target pencapaian surplus beras dan mesin tua masih menjadi para pengusaha TPT di Jabar. Berikut rangkumannya.

SURPLUS BERAS: Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengakui menghadapi banyak kendala dalam merealisasikan target pencapaian surplus beras yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 30% dari surplus nasional sebanyak 10 juta ton beras pada 2014 mendatang.

Adapun faktornya antara lain tingginya alih fungsi lahan, menurunnya kesuburan tanah, buruknya infrastruktur jaringan irigasi, meluasnya area yang berpotensi terkena gangguan bencana alam, sarana dan alat mesin pertanian yang mahal.

Untuk mengatasi berbagai persoalan ini, Pemprov Jabar melakukan kesepakatan bersama para kepala daerah (MoU) yang dilakukan di Hotel Grand Aquila, kemarin.

"Beberapa waktu lalu kita melakukan rapat dengan Menteri Pertanian dan Perekonomian. Dalam rapat itu, pemerintah pusat menargetkan pada tahun 2014 mendatang surplus beras meningkat hingga 10 juta ton pada tahun 2014 mendatang. Jabar yang merupakan lumbung padi ditargetkan menyumbang surplus nasional sebesar 30% atau sebanyak 2,9 juta ton. Untuk mengejar target ini,tentunya diperlukan rencana strategis. MoU ini merupakan salah satu komitmen kita untuk mendukung target surplus nasional," tegas Heryawan usai menandatangani MoU kemarin. (Seputar Indonesia Jabar)

PAJAK KOS: Bagi masyarakat pemilik usaha kos dan rumah kontrakan harus bersiap-siap menyediakan dana untuk pajak. Sebab, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon sedang mengkaji Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pajak Rumah Kos dan Kontrakan.
Walaupun raperda ini baru akan diusulkan pada 2012 atau 2013, Pemkot Cirebon mulai menyosialisasikannya dari sekarang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Hasanudin Manap mengatakan,Pemkot Cirebon menilai pengenaan pajak pada rumah kos dan kontrakan dianggap bisa mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
Tapi, kata dia, sejauh ini berapa besaran yang harus dibayarkan pemilik kos dan rumah kontrakan belum dibahas secara rinci. “Besarannya masih dalam pembahasan, tapi yang jelas nominalnya kecil,” kata dia, kemarin. (Seputar Indonesia Jabar)

KENDALA MESIN: Kemampuan permesinan masih menjadi kendala yang dihadapi oleh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia. Mesin yang relatif tua dinilai menyulitkan efisiensi dan diversifikasi produk.
"Data terakhir menunjukkan, lebih dari 80% mesin TPT telah berusia lebih dari 20 tahun sehingga terjadi inefisiensi dalam proses produksi," kata Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian, Arryanto Sagala, dalam Seminar Tekstil Nasional 2011 di Balai Besar Tekstil Bandung, Selasa (11/10). (Pikiran Rakyat)

Selasa, 11 Oktober 2011

Bulog Akan Bangun 11 Gudang Baru


Bulog Akan Bangun 11 Gudang Baru


Oleh Gloria Natalia




Berita Terkait
Bulog Kaltim Kaji Ulang Bangun Gudang Beras Baru
Lotte Targetkan Bangun 100 Gerai
Cargill Bangun Pabrik Kakao Rp855 Miliar Di Sulsel
Sukses Sawit Bangun 2 Pabrik Di Kaltim
Inpex Siap Bangun Terminal Gas Blok Masela



JAKARTA: Bulog akan bangun 11 gudang baru pada 2012 untuk menampung surplus beras 10 juta ton pada 2014.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan saat ini 1.570 gudang bulog sudah tidak mampu lagi menampung beras. Apalagi jika surplus beras 10 juta ton pada 2014 terwujud, gudang-gudang Bulog kesulitan menampungnya.

Surplus beras 10 juta ton itu merupakan bagian dari produksi beras 44,29 juta ton yang dihasilkan 78,78 juta ton gabah kering giling.

Selain itu, Bulog hanya memiliki 135 unit pengolahan gabah dan beras (UPGB) yang tidak mampu menyerap lebih banyak gabah. Sutarto memperkirakan 135 unit itu hanya mampu menampung ratusan ribu ton.

"Idealnya, satu gudang memiliki satu unit. Bergantung pada kapasitas. Jika kapasitas 3.000 ton sehari, maka perlu beberapa unit yang mengalirkan beras ke Bulog," katanya di gedung Kementerian Pertanian hari ini.

Sutarto mencontohkan Ciamis punya gudang Bulog kecil tapi daerah itu berpotensi didirikan gudang baru. Setiap gudang baru, menurutnya, memiliki kemampuan menampung beras yang tidak sama dengan gudang lain, tergantung kapasitas UPGB.

"Untuk 2010 sampai 2011, Bulog jauh lebih ketat dari 2008 dan 2009. Kata kuncinya besaran produksi. Idealnya, satu gudang memiliki satu unit. Bergantung pada kapasitas. Jika kapasitas 3.000 ton sehari, maka perlu beberapa unit yang mengalirkan beras ke Bulog," tuturnya.

Sutarto menjelaskan dana pembangunan gudang baru berasal dari laba Bulog, bukan dariAPBN. Selain memiliki gudang baru, saran Sutarto, Indonesia juga butuh kebijakan untuk mengatur arus keluar masuk beras, terutama jika Indonesia sampai mengekspor beras. (sut)

Senin, 10 Oktober 2011

Penyerapan Pembelian Beras Di Jabar Rendah


Penyerapan Pembelian Beras Di Jabar Rendah
Oleh Herdiyan

Sabtu, 08 Oktober 2011 | 07:59 WIB



Berita Terkait
Petani Jabar Malas Jual Beras Ke Bulog
Bulog Malang Terima 10.000 Ton Beras Impor Asal Vietnam
Produksi Padi Di Kab. Malang Tak Terpengaruh Kemarau Panjang
Amankan Harga Beras, Bulog & Pemkot Balikpapan Siap Gelar Operasi Pasar
80 Kontainer Jemput Beras Impor Rusak Di Sumbar


BANDUNG: Rangkuman berita ekonomi dari media massa yang terbit di Bandung hari ini, Sabtu 8 Oktober 2011 adalah: Bulog Jabar baru serap beras 52% dan para petani di Karawang diminta atasi gagal panen. Berikut rangkumannya:

Penyerapan beras: Penyerapan beras oleh Bulog Divre Jawa Barat hingga awal Oktober baru sekitar 52% dari rencana pembelian (prognosis) tahun ini. Ditengarai, harga pembelian pemerintah (HPP) yang menjadi pegangan Bulog dalam pengadaan beras tidak lagi diminati oleh petani atau pelaku usaha penggilingan padi. “Sampai dengan 6 Oktober 2011, jumlah pengadaan Divre Jabar telah mencapai 232.707 ton atau 52% dari prognosis. Setelah bulan ini, pengadaan sepertinya akan berat,” kata Kepala Bulog Divre Jabar Usep Karyana, Jumat (7/10). (Pikiran Rakyat)

Gagal panen: Bupati Karawang Ade Swara meminta para petani mampu mengatasi musim kemarau yang berlangsung lama pada musim tanam gadu sekarang ini sehingga dapat meminimalisasikan terjadinya gagal panen. Menurut Ade kegiatan mapag cai ini sebagai tanda dimulainya musim tanam. Adapun langkah yang bisa diambil para petani untuk mengantisipasi musim kemarau yang berkepanjangan ini, petani harus memiliki ketersediaan air, percepatan pengolahan tanah, semai dan tanam, pengaturan atau penjadwalan pola tanam, efisiensi air atau penghematan pemakaian air serta melaksanakan pola gilir giring. “Selain itu untuk mengefektifkan ketersediaan air, diperlukan juga adanya pengerukan di saluran irigasi yang mengalami pendangkalan,” kata Ade. (Seputar Indonesia Jabar)

Usaha bangkrut : Membanjirnya produk impor di pasaran mengancam industri menengah di Jawa Barat. Sebanyak 600 industri menengah yang sebagian besar bergerak di bidang tekstil terancam bangkrut. Sekretaris Umum DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Parlindungan Saragih mengatakan kondisi itu merupakan akibat produk yang dihasilkan kalah bersaing dengan produk luar. Dia menilai perlu langkah antisipatif agar industri menengah tidak terus terpuruk. “Perlu perlindungan terhadap setiap produk lokal. Karena bagaimana pun juga jumlah perusahaan menengah yang didominasi tekstil ini terbilang banyak. Permasalahan tersebut mendera hampir 10% dari sekitar 6.000 perusahaan yang bergerak di bidang itu,” kata Saragih. (Seputar Indonesia Jabar)(mmh)

Jumat, 07 Oktober 2011

Asean Perlu Tambah Cadangan Beras 2 Kali Lipat

E.Marhadi


Asean Perlu Tambah Cadangan Beras 2 Kali Lipat


Oleh Asep Dadan Muhanda

Jum'at, 07 Oktober 2011 | 11:21 WIB




Berita Terkait
Wapres Ajak Asean Gandakan Cadangan Beras
Wapres Buka Sidang Ke-33 Menteri Pertanian Dan Kehutanan Asean
Asean-India Galang Kerja Sama Pertanian
Asean+3 Sepakati Cadangan Beras
Pertemuan Pejabat Senior Asean Bahas Ketahanan Pangan



JAKARTA: Wakil Presiden Boediono mengajak para pemimpin Asean untuk menambah cadangan beras dua kali lipat dari saat ini untuk memperkuat ketahanan pangan.

Penambahan stok cadangan beras juga diperlukan untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penduduk di negara berkembang, terutama kawasan Asean, namun produksi pangan terus turun.

"Perhatian dunia, dan perhatian kita di Asean, akhir-akhir ini tertuju pada perkembangan yang mengindikasikan adanya ketimpangan yang makin melebar antara konsumsi dan produksi pangan dunia," ujar Wapres saat membuka Sidang ke-33 Menteri Pertanian dan Kehutanan Asean, di Jakarta, hari ini.

The 33rd Asean Ministerial Meeting on Agricultural and Forestry juga dilanjutkan dengan pertemuan Asean+3 meliputi Jepang, China dan Korea Sealatan, serta Asean +3 dengan India.

Boediono menjelaskan menurut catatan PBB, pada Oktober 2011 ini akan lahir bayi yang ke-7 miliar. Dari 7 miliar penduduk dunia, sekitar 600 juta hidup di kawasan Asean dan lebih dari 2,1 miliar juta jiwa hidup di kawasan Asean+3 (China, Jepang dan Korea Selatan). Jika ditambah lagi India, maka kawasan ini akan mendominasi jumlah penduduk dunia, atau hampir 3,3 miliar setara 47% penduduk dunia.

"Untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut, produksi pangan global saat ini harus ditingkatkan sekitar 75% dan khusus untuk negara-negara berkembang ditingkatkan sampai 100%," ujar Boediono.

Wapres mengatakan Asean juga harus segera memanfaatkan empat mitra kerja Jepang, Korea Selatan, China dan India untuk menerapkan teknologi produksi pangan. Keempat negara itu mempunyai hasil-hasil riset dalam peningkatan produksi pangan yang harus segera dimanfaatkan.

"Forum Asean+3 dan India akan memperluas opsi-opsi yang terbuka untuk menjawab tantangan bersama di bidang pangan ini, karena ketiga negara mitra mempunyai teknologi dan sistem keamanan pangan yang maju," katanya. (ln)

Wapres Ajak Asean Gandakan Cadangan Beras

E.Marhadi


Wapres Ajak Asean Gandakan Cadangan Beras


Oleh Asep Dadan Muhanda

Jum'at, 07 Oktober 2011 | 13:35 WIB




Berita Terkait
Asean Perlu Tambah Cadangan Beras 2 Kali Lipat
Wapres Buka Sidang Ke-33 Menteri Pertanian Dan Kehutanan Asean
Asean-India Galang Kerja Sama Pertanian
Asean+3 Sepakati Cadangan Beras
Pertemuan Pejabat Senior Asean Bahas Ketahanan Pangan


JAKARTA: Wakil Presiden Boediono mengajak para pemimpi Asean untuk menambah cadangan beras dua kali lipat dari saat ini untuk memperkuat ketahanan pangan.

Penambahan stok cadangan beras juga diperlukan untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah penduduk di negara berkembang, terutama kawasan Asean namun produksi pangan terus turun.

"Perhatian dunia, dan perhatian kita di ASEAN, akhir-akhir ini tertuju pada perkembangan yang mengindikasikan adanya ketimpangan yang makin melebar antara konsumsi dan produksi pangan dunia," ujar Wapres saat membuka Sidang ke-33 Menteri Pertanian dan Kehutanan Asean, hari ini.

The 33rd Asean Ministerial Meeting on Agricultural and Forestry juga dilanjutkan dengan pertemuan Asean+3 meliputi Jepang, China dan Korea Sealatan, serta Asean +3 dengan India.

Boediono menjelaskan menurut catatan PBB, pada Oktober 2011 ini akan lahir bayi yang ke-7 miliar.

Dari 7 miliar penduduk dunia, sekitar 600 juta hidup di kawasan Asean dan lebih dari 2,1 miliar juta jiwa hidup di kawasan Asean+3 (China, Jepang dan Korea Selatan).

Jika ditambah lagi India, maka kawasan ini akan mendominasi jumlah penduduk dunia, atau hampir 3,3 miliar setara 47% penduduk dunia.

"Untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut, produksi pangan global saat ini harus ditingkatkan sekitar 75% dan khusus untuk negara-negara berkembang ditingkatkan sampai 100%," ujar Boediono.

Manfaatkan mitra
Wapres mengatakan Asean juga harus segera memanfaatkan empat mitra kerja Jepang, Korea Selatan, China dan India untuk menerapkan teknologi produksi pangan.

Keempat negara itu mempunyai hasil-hasil riset dalam peningkatan produksi pangan yang harus segera dimanfaatkan.

"Forum Asean+3 dan India akan memperluas opsi terbuka untuk menjawab tantangan di bidang pangan ini, karena ketiga negara mitra mempunyai teknologi dan sistem keamanan pangan yang maju." (bsi)

Senin, 03 Januari 2011

Marhadi's Blog: Apaan.............tuh!

Marhadi's Blog: Apaan.............tuh!: "Bukankah aku katakan .................bahwa segenggam beras itu berarti sekali bagi kaum miskin kebanyakan. Apalagi lebih dari segenggam......."

Guru Yang Berharga..................


Bukankah aku katakan .................bahwa segenggam beras itu berarti sekali bagi kaum miskin kebanyakan. Apalagi lebih dari segenggam........Dan banyak pelajaran kita petik yang telah diberikan oleh para pendahulu kita . Tapi kenapa ........belum puaskah kita ...dengan bagaimana lagi biar kita jera......apa belum ada konsep yang lebih baik, padahal banyak orang kita terjerumus karena bermain main dengan haknya orang miskin....tidak sedikit pula apa yang mereka raih selama ini habis dalam sekejap. Sungguh memprihatinkan.....................Dan ingat juga yang lebih penting lagi...Perusahaan ini tidak akan bangkrut meskipun dirongrong dari berbagai penjuru diambil berkali kali.......dimanipulasi oleh para oknum dan itu terbukti masih fight sampai detik ini. Karena pondasi perusahaan ini adalah doa doanya kaum miskin yang setiap bulannya selalu menanti hak mereka datang. Karena perusahaan ini juga dibangun bukan hanya dari segi kepandaian  semata tapi juga dibangun diatas Kejujuran . Ikhlas membantu kaum miskin .Dari merekalah jutaan kalimat doa mengalir setiap saat, setiap detik, setiap tarikan nafas Duafa, setiap getaran tangan mereka menerimanya........(MORAL KITA BELUM KE TITIK 100%).

Apaan..........tuh!

ARIWARA
Add caption




Add caption
Add caption
Add caption
Add caption
Add caption
Add caption

Add caption
Add caption

ARIWARA

Jumat, 31 Desember 2010

Tanpa lelah dan tiada henti memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak.........bahkan diusianya yng tidak lagi muda terus membela untuk kepentingan masyarakat miskin.........karena doa doanya rakyat miskin Bulog bisa berjaya.