Mentan Janji tingkatkan Produksi Padi
Penulis : Fidel Ali Permana
Rabu, 02 November 2011 22:19 WIB

ANTARA/Heru/pj
TERKAIT
Harga Beras Indonesia Lebih Tinggi daripada Internasional
Mentan Janji tingkatkan Produksi Padi
Kalsel Andalkan Beras Impor untuk Jaga Stok
Penulis : Fidel Ali Permana
Rabu, 02 November 2011 22:19 WIB
ANTARA/Heru/pj
TERKAIT
Harga Beras Indonesia Lebih Tinggi daripada Internasional
Mentan Janji tingkatkan Produksi Padi
Kalsel Andalkan Beras Impor untuk Jaga Stok
JAKARTA--MICOM: Menteri Pertanian Suswono berjanji akan meningkatkan produktivitas padi. Peningkatan tersebut akan dilakukan dengan meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 1,2 menjadi 2.
"Ke depan Kementerian Pertanian akan menggenjot beberapa hal untuk kembali meningkatkan produksi padi hingga akhir tahun ini. Diantaranya meningkatkan produktivitas lahan dengan meningkatkan nilai indeks pertanaman dari rata-rata 1,6 menjadi 2," kata Suswono, Rabu (2/11).
Dalam rilis bulanan BPS (Badan Pusat Statistik), disebutkan produksi beras 2011 diperkirakan turun menjadi 65,39 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 1,08 juta ton (1,63%) dibandingkan dengan 2010.
Penurunan produksi akibat terjadi penurunan luas panen sebesar 29,07 ribu hektare atau turun 22 persen menjadi 13.224.379 juta hektare dari tahun 2010 seluas 13.253.450 juta hektare.
Sedangkan produktivitas lahan yang dirilis BPS sebesar 0,71 kuintal per hektare. Sama halnya dengan produktivitas padi tahun ini turun menjadi 49,44 kuintal per hektare dari tahun lalu berjumlah 50,15 kuintal per hektare.
Peningkatan produksi beras yang akan dilakukan Suswono yakni dengan memastikan pasokan air cukup untuk seluruh areal tanaman padi.
"Pasokan air ini bisa dicukupi dengan memperbaiki jaringan irigasi maupun pompanisasi," kata Suswono.
Selain itu, lanjut Suswono, kementan akan menggenjot produktivitas di lahan rawa. Saat ini potensi lahan rawa untuk tanaman padi mencapai 900 ribu hektare yang tersebar di Pulau Kalimantan, Provinsi Sumatera Selatan, dan Lampung.
Produktivitas lahannya bisa berpotensi hingga 5 ton per hektare dengan masa panen rata-rata 1 hingga 2 kali dalam satu tahun. "Potensi lahan rawa ini digenjot melalui pengaturan jarak tanam dan penggunaan pupuk yang berimbang serta penggunaan benih unggul," urai Suswono.
Ditemui terpisah di ruangannya, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengaku sedih dengan hasil yang disampaikan BPS. Ia menilai jajaran kementan sudah mengusahakan berbagai cara agar produktivitas padi meningkat.
Meski begitu, Rusman menilai perlu adanya pembenahan data produktivitas beras. "Kita akan benahi angka produktivitas beras, ini harus akurat karena terkait juga dengan ketahanan pangan dan surplus 10 juta ton yang dimintakan presiden," kata Rusman.
Rusman menjelaskan jika produksi beras diprediksi menurun tidak serta-merta kesalahan dari kementan. Ia menyebut faktor cuaca membuat beberapa lahan menjadi puso lalu karena ada kemarau panjang membuat produksi padi beras menurun, saat kemarau irigasi sulit.
"Inikan pancaroba terus menerus, ini berbeda dengan apa yang dialami 2010, memang 2010 ada musim kemarau tapi basah, ada kesempatan petani konfiden untuk menanam kembali. Pada tahun 2011 kemarau ini panjang sekali kering, ketika kering kita menghadapi masalah air, air sedikit ditambah lagi infrastruktur irigasi kurang mendapat perhatian revitalisasi, jadi tidak efektif," lanjut Rusman.
Sisa waktu dua bulan menjelang akhir tahun dinilai Rusman masih cukup optimistis. "1,6% ini kan minus, kita hanya punya peluang 2 bulan, realisasi produksi Januari Agustus 80% sendiri, kita hanya punya peluang 20 persen. (September-Desember). Kalau optimis, saya optimis ada produksi yang lebih bagus, kita harap tidak sampe turun, naik ya sulit lah."
Rusman yang masih menjabat sebagai Kepala BPS ini memberikan penjelasan bahwa perlu pemahaman data statistik. Pemahaman data statistik agar tidak terjadi salah paham dan salah data. (Fid/OL-3)
"Ke depan Kementerian Pertanian akan menggenjot beberapa hal untuk kembali meningkatkan produksi padi hingga akhir tahun ini. Diantaranya meningkatkan produktivitas lahan dengan meningkatkan nilai indeks pertanaman dari rata-rata 1,6 menjadi 2," kata Suswono, Rabu (2/11).
Dalam rilis bulanan BPS (Badan Pusat Statistik), disebutkan produksi beras 2011 diperkirakan turun menjadi 65,39 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 1,08 juta ton (1,63%) dibandingkan dengan 2010.
Penurunan produksi akibat terjadi penurunan luas panen sebesar 29,07 ribu hektare atau turun 22 persen menjadi 13.224.379 juta hektare dari tahun 2010 seluas 13.253.450 juta hektare.
Sedangkan produktivitas lahan yang dirilis BPS sebesar 0,71 kuintal per hektare. Sama halnya dengan produktivitas padi tahun ini turun menjadi 49,44 kuintal per hektare dari tahun lalu berjumlah 50,15 kuintal per hektare.
Peningkatan produksi beras yang akan dilakukan Suswono yakni dengan memastikan pasokan air cukup untuk seluruh areal tanaman padi.
"Pasokan air ini bisa dicukupi dengan memperbaiki jaringan irigasi maupun pompanisasi," kata Suswono.
Selain itu, lanjut Suswono, kementan akan menggenjot produktivitas di lahan rawa. Saat ini potensi lahan rawa untuk tanaman padi mencapai 900 ribu hektare yang tersebar di Pulau Kalimantan, Provinsi Sumatera Selatan, dan Lampung.
Produktivitas lahannya bisa berpotensi hingga 5 ton per hektare dengan masa panen rata-rata 1 hingga 2 kali dalam satu tahun. "Potensi lahan rawa ini digenjot melalui pengaturan jarak tanam dan penggunaan pupuk yang berimbang serta penggunaan benih unggul," urai Suswono.
Ditemui terpisah di ruangannya, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengaku sedih dengan hasil yang disampaikan BPS. Ia menilai jajaran kementan sudah mengusahakan berbagai cara agar produktivitas padi meningkat.
Meski begitu, Rusman menilai perlu adanya pembenahan data produktivitas beras. "Kita akan benahi angka produktivitas beras, ini harus akurat karena terkait juga dengan ketahanan pangan dan surplus 10 juta ton yang dimintakan presiden," kata Rusman.
Rusman menjelaskan jika produksi beras diprediksi menurun tidak serta-merta kesalahan dari kementan. Ia menyebut faktor cuaca membuat beberapa lahan menjadi puso lalu karena ada kemarau panjang membuat produksi padi beras menurun, saat kemarau irigasi sulit.
"Inikan pancaroba terus menerus, ini berbeda dengan apa yang dialami 2010, memang 2010 ada musim kemarau tapi basah, ada kesempatan petani konfiden untuk menanam kembali. Pada tahun 2011 kemarau ini panjang sekali kering, ketika kering kita menghadapi masalah air, air sedikit ditambah lagi infrastruktur irigasi kurang mendapat perhatian revitalisasi, jadi tidak efektif," lanjut Rusman.
Sisa waktu dua bulan menjelang akhir tahun dinilai Rusman masih cukup optimistis. "1,6% ini kan minus, kita hanya punya peluang 2 bulan, realisasi produksi Januari Agustus 80% sendiri, kita hanya punya peluang 20 persen. (September-Desember). Kalau optimis, saya optimis ada produksi yang lebih bagus, kita harap tidak sampe turun, naik ya sulit lah."
Rusman yang masih menjabat sebagai Kepala BPS ini memberikan penjelasan bahwa perlu pemahaman data statistik. Pemahaman data statistik agar tidak terjadi salah paham dan salah data. (Fid/OL-3)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar