Saat Dilema dan Kejujuran tidak Sampai
by jendelabuku
Obrolan Pembaca Media Indonesia(OPMI) Oktober 2011 memilih buku Lost Butterfly, Dilema Cinta Mantan Pria karangan Yandasadra. Novel romantis’ ini bercerita tentang kisah percintaan mantan waria dengan seorang dosen muda. Namun karena stigma sosial yang masih kuat, cinta yang mulai bersemi itu akhirnya menjauhkan mereka. Sebuah kisah yang mengharukan dan patut menjadi renungan bagi siapa pun.
Sebuah fakta yang termarginalkan dan disingkirkan tentang transgender diusung dalam novel yang kontroversial tetapi mengandung penyadaran mendalam.
SOELISTIJONO
SAMPAIKANLAH kebenaran walaupun itu pahit bagi yang mendengarnya. Kutipan hadis itu mungkin yang diyakini Yandasadra lewat novelnya Lost Butterfly, Dilema Cinta Mantan Pria.
Boleh disebut, inilah sebuah novel yang kontroversial tapi jujur karena berada dalam pinggir pemahaman intuisi umum. Di tengah-tengah masyarakat yang berpegang pada kultur ketimuran dan konon religius, novel ini bertutur tentang transeksual dan transgender yang masih menjadi topik abu-abu.
Pada acara yang dikemas dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI), bekerja sama dengan panitia UI Book Festival dan Googdreads Indonesia, di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu (22/10), Yandasadra hadir menjelaskan proses kreatif pembuatan novelnya itu.
Lost Butterfly adalah novel percintaan antara
seorang mantan pria yang memilih hidup sebagai wanita. Romantisme yang dihadirkan Yanda bukanlah cinta-cintaan gaya biasa.
Ini adalah romantisme sakral, pertemuan antara tokoh Maria dan Arman yang terlibat cinta yang jarang terjadi,” ujarnya.
Justru di sanalah kekuatan novel ini yang beda dengan kisah-kisah picisan. Pergolakan batin sang tokoh Maria (waria) dikemas apik melalui alur datar dan dialog panjang yang penuh filosofis namun tidak membosankan, bahkan sebaliknya, membuat penasaran pembaca.
Dialognya terlihat jelas diolah dari kajian ontologi dan teologi yang mendalam. Terhadap ciri khas novelnya ini, Yanda mengakui awalnya karyanya ini merupakan hasil penelitian yang sebelumnya akan dijadikan sebagai buku ilmiah mengenai fikih transgender. Tapi oleh penulis diurungkan karena menyadari akan reaksi masyarakat nantinya.
Yanda pun memilih jalur aman, menuliskan ‘karya ilmiahnya’ dengan balutan novel. Bahkan ia memakai nama pena untuk novelnya.
Yanda mengaku terusik untuk meneliti dan membuat karya yang mengangkat tema transgender karena kecewa dengan perlakuan masyarakat terhadap waria yang dinilai tak adil. Anehnya lagi sering kali di sandarkan atas nama agama.
Bagi Yanda, agama merupakan wahyu yang oleh Tuhan sebagai pencipta manusia telah dipersiapkan skenario tentang orang-orang yang diujinya.
“Agamakan rasional, pasti ada solusi bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena transgender ini. Buat apa ada agama jika tak mampu menyelesaikan masalah kemanusiaan?” kata Yanda menggugah kesadaran
peserta OPMI.
Salah perlakuan
Dalam perbincangan itu sempat terlontar dari peserta yang mempertanyakan pembelaan ganti kelamin dalam novel tersebut. Namun, menurut Yanda, merestui transgender bukan berarti pembenaran atas homoseksual atau lesbian. “Ini hal yang berbeda, sejelas perbedaan antara gay, waria, dan bencong. Gay adalah mereka yang memperlakukan diri sebagai pria dan ingin berhubungan dengan pria (begitu pula lesbian, antar-wanita). Waria adalah mereka yang memperlakukan diri sebagai wanita dan ingin berhubungan dengan pria. Ada pun istilah yang sering kita dengar, bencong, adalah orang yang menjadikan kebancian
sebagai ajang mencari nafkah (tidak punya kelainan jiwa atau hormon). Ini termasuk eksploitasi yang tidak dibenarkan,” jelas Yanda.
Banyak kebiasaan yang ada pada masyarakat merupakan ketelanjuran yang tertanam di alam bawah sadar. Masyarakat sebagian besar mengartikan waria sama dengan bencong.
Pada kesempatan itu Yanda juga mengkritik peran ‘bencong’ di televisi yang diperan kan laki-laki normal. “Lihat saja sinetron atau film-film yang menghadirkan sosok bencong. Seorang pria akan didandani dan akan bertingkah layaknya perempuan, dan kita tertawa me lihatnya. Ini tidak adil.”
Dalam hal itu, pe nonton terbagi tiga, pertama yang menganggapnya sebagai lelucon. Peran bencong dan perlakuan orang terhadapnya, walau
ha nya akting, jadi legitimasi bagaimana memperlakukan mereka dalam kehidupan nyata.
Namun ada juga yang merasa jijik dengan peran bencong, terutama para
pria yang merasa harga dirinya terinjak-injak. Selanjutnya penonton yang merasa terganggu karena menurut mereka tayangan ini tidak menghormati hak asasi waria.
Hak asasi waria? “Ya, kita sering kali amnesia kalau berhadapan dengan waria.” Lupa kalau mereka juga manusia yang mempunyai hak untuk
diperlakukan seadil masyarakat nor mal lainnya. Lupa kalau mereka pasti punya alasan di balik pilihannya, dan lupa seberapa besar tekanan psikis sosial yang mereka hadapi.
“Bangsa kita ini, jangankan mempersoalkan transgender, melihat orang yang berbeda pendapat saja sudah ribut,” kata Yanda. Yang terjadi kemudian memaksa pemikiran orang lain agar sejalan dengan kita.
“Orang yang memaksakan pendapat sesungguhnya ragu dengan pendapatnya sendiri sehingga perlu dukungan, dan mereka tidak segan menjadi agresif,” tukas Yanda.
Menentukan pilihanMeskipun setuju dengan transgender, Yanda mengatakan seseorang tidak serta-merta boleh ganti kelamin sesuka hatinya. Di sana ada proses panjang yang melibatkan para ahli. Apakah benar sang pelaku siap secara fisik dan mental, siap menerima risiko di kemudian hari?
Yanda mengatakan kalau seseorang sudah menentukan pilihannya dengan melakukan operasi transgender, kita harus menghormatinya dan memperlakukan dia sesuai identitas barunya.
Manusia memiliki kebebasan, tapi kebebasan kita dibatasi kebebasan orang lain. Apalagi jika menyangkut hal-hal kosmik dan kejadian alam, manusia tidak berdaya.
Sebuah pertanyaan mendasar, siapa yang bisa memilih dilahirkan sebagai pria atau wanita? Siapa yang bisa pesan akan seperti apa wajah kita? Itu semua ada di tangan Tuhan, di luar kehendak manusia.
Perbincangan novel Lost Butterfly semakin menarik saat seorang peserta mengemukakan pendapatnya bahwa ia bisa saja menghormati pilihan waria,
tapi harus menghadapi risiko cibiran dari masyarakat.
Namun sebagian besar peserta OPMI mengakui novel ini banyak memberikan pemahaman baru. “Melacak preferensi kajian transgender membutuhkan pemahaman mendalam.
Perlakuan secara sosial bisa saja berubah, tapi pertentangan lain pasti sengit dan panas karena kajiannya tak bisa lepas dari agama.” (*/M-6)
miweekend@mediaindonesia.com
Manusia memiliki kebebasan, tapi kebebasan kita dibatasi kebebasan orang lain. Apalagi jika menyangkut hal-hal kosmik dan kejadian alam, manusia tidak berdaya.
Sebuah pertanyaan mendasar, siapa yang bisa memilih dilahirkan sebagai pria atau wanita? Siapa yang bisa pesan akan seperti apa wajah kita? Itu semua ada di tangan Tuhan, di luar kehendak manusia.
Perbincangan novel Lost Butterfly semakin menarik saat seorang peserta mengemukakan pendapatnya bahwa ia bisa saja menghormati pilihan waria,
tapi harus menghadapi risiko cibiran dari masyarakat.
Namun sebagian besar peserta OPMI mengakui novel ini banyak memberikan pemahaman baru. “Melacak preferensi kajian transgender membutuhkan pemahaman mendalam.
Perlakuan secara sosial bisa saja berubah, tapi pertentangan lain pasti sengit dan panas karena kajiannya tak bisa lepas dari agama.” (*/M-6)
miweekend@mediaindonesia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar